Selasa, 07 Februari 2012


UJIAN NASIONAL HAMPIR TIBA, APAKAH PERLU NYONTEK !
BAGAIMANA DENGAN KARAKTER ANAK BANGSA KELAK ?
Penulis : REFDIANORA Guru SMPN 1 Kota Bengkulu
Penerima Beasiswa S2 Program Beasiswa Unggulan Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri (BPKLN) Kemendiknas  Jakarta

Ujian Nasional adalah proses evaluasi akhir terhadap siswa dan sekolah. Ujian Nasional juga sebagai salah satu indikator penentu kelulusan siswa. Hasil ujian seharusnya dijadikan pemerintah sebagai sarana evaluasi dan feed back untuk pengembangan daerah tentang mutu pendidikan sehingga dapat diambil kebijakan yang tepat terhadap sekolah, maupun daerah sesuai dengan hasil ujian nasional tersebut. Pada akhirnya dapat dilakukan peningkatan mutu pendidikan setiap tahunnya.          
Seluruh insan pendidikan sedang menghadapi persiapan untuk ujian nasional,mulai tingkat SD, SMP sampai SMA. Tak luput juga orang tua juga ikut sibuk  untuk mempersiapkan anak-anak mereka untuk melaksanakan ujian yang sangat menentukan masa depan mereka. Bimbingan belajar juga  tumbuh bagaikan cendawan dimusim hujan. Berbagai program dijalankan sekolah agar siswa bisa lulus, kalau bisa 100 persen, karena kuantitas kelulusan juga akan mempengaruhi kualitas sekolah.
Bimbingan belajar (Bimbel) memberikan berbagai macam janji dengan brosur-brosur yang sangat mempengaruhi peserta didik bahkan para orang tua untuk bisa memilih bimbel mereka. Mulai dari tempat full AC sampai  menyediakan minuman gratis ditempat bimbel mereka bahkan ada yang menjamin lulus kalau tidak uang kembali. Orang tua haruslah bergembira dengan banyaknya bimbel-bimbel yang menjamur ini tetapi juga haruslah selektif memilih untuk anak-anak kita. Jangan tertipu dengan bimbel yang terlalu banyak janji tapi tidak berkualitas, pilihlah bimbel yang sudah teruji kualitas atau hasilnya.
Orangtua sudah saatnya mempersiapkan anak-anak untuk menghadapi ujian nasional  dengan berpikiran sehat . Jangan berpikiran “anak saya yang penting lulus” , tetapi tidak menanamkan bagaimana cara  mendapatkan lulus dengan hasil yang bisa mereka pertanggungjawabkan. Kesiapan fisik untuk menghadapi ujian nasional perlu dipikirkan. Untuk menghadapi persiapan ujian nasional dan pada saat ujian nasional harus membutuhkan kesehatan yang prima untuk berpikir sehingga hasil ujian dapat memuaskan. Kesehatan mental juga tidak kalah pentingnya. Bimbingan bersifat psikis terhadap anak-anak kita perlu diberikan secara kontinyu. Tanamkanlah kepada anak nilai-nilai kejujuran, kerja keras, tidak mengandalkan bantuan orang lain sekaligus menanam  harga diri untuk tidak minta tolong pada orang lain disaat ujian nasional. Kalau komitmen ini sudah ditanamkan dan dimulai jauh sebelumnya pada diri mereka  tentu hal yang kita khawatirkan pada saat ujian nasional tidak akan terjadi. Orang tua sudah selayaknya juga menemani, mengawasi putra-putri mereka untuk belajar, karena mereka membutuhkan orang tua baik secara langsung atau tidak langsung untuk terus membimbing mereka untuk menghadapi ujian nasional ini. Sangat mustahil kalau ada anak-anak yang benar-benar lepas dari pengawasan orang tuanya karena usia meraka masih butuh bimbingan, jadi jangan terlalu percaya kalau ada yang mengatakan mereka sudah bisa mandiri secara utuh untuk menghadapi ujian nasional ini. Kalau memang diperlukan lengkapilah putra putri kita dengan buku atau soal-soal menghadapi UN yang sudah banyak tersedia ditoko- toko buku.
Sekolah juga pada saat ini sudah mempersiapkan strategi-strategi mereka untuk menghadapi ujian nasional. Bermacam-macam strategi sudah mereka persiapkan, mulai dengan memberikan jam tambahan belajar dengan harapan para siswa mereka bisa lulus dengan hasil yang sangat memuaskan baik secara kuantitas maupun kualitas. Sebahagian ada yang beranggaapan kalau memberikan jam tambahan adalah yang sangat memaksa, seolah- olah akan dihadapkan pada latihan militer tetapi tidak perlu beranggapan demikian. Hal ini perlu dilakukan untuk menambah dan memperdalam kembali wasawan siswa untuk menghadapi ujian nasional itu sendiri karena materi pelajaran yang diujikan adalah materi pelajaran dari kelas satu, dua sampai kelas akhir. Untuk itu sekolah perlu memberikan pelajaran tambahan. Kalau pemberian pelajaran tambahan diberikan dengan benar dan tepat maka usaha ini tidak akan sia-sia. Tetapi ada juga yang tidak asing bagi kita kalau ada beberapa sekolah yang menempuh cara-cara yang tidak terhormat untuk mendapatkan kelulusan bagi anak didiknya, sementara kita lagi mengagung-agungkan pendidikan karakter di dunia pendidikan. Pedidikan karakter bukan hanya ditujukan kepada para siswa kita tetapi semua yang terkait dengan dunia pendidikan. Pendidikan karakter akan berhasil jika didukung masyarakat, orang tua, guru/kepala sekolah, jajaran Diknas mulai dari tingkat  kota, propinsi sampai tingkat nasional, kalau hal ini dicemari oleh salah satu atau sebahagian dari unsur tersebut maka cacatlah pendidikan karakter yang diharapkan oleh semua orang. Pertanyaaan akhir, apakah kita bisa mewujudkan bangsa yang bermartabat ?
Harapan kita semua supaya anak-anak kita , siswa-siswi kita lulus dengan hasil yang sangat memuaskan. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan perlu usaha yang keras dan bertanggung jawab. Perlu kerja sama orang tua, dan sekolah serta iklim pendidikan yang sehat untuk mewujudkan ini semua. Menyontek bukanlah karakter yang baik, menyontek adalah membudayakan “ mencuri “ untuk anak-anak kita/siswa-siswi kita. Relakah anak kita  mencuri atau membiarkan anak-anak kita  mencuri ?. Memang sangat dilematis ketika dihadapkan kepada masalah ini apalagi tuntutan standar skor kelulusan setiap tahunnya terus meningkat. Kalau paradigma kedepan tentang kelulusan tidak berubah masalah-masalah ini akan terus kita hadapi. Mungkin perlu kita pikirkan kembali akar permasalahan ini, apakah kebijakan pemerintah yang keliru ataukah pola pembelajaran yang salah atau lingkungankah (keluarga dan masyarakat) yang tidak mendukung. Kalaupun paradima ini akan kita jalankan terus, perlu pemikiran dan tindakan yang sangat keras untuk mencerdaskan anak bangsa yang bermartabat, sehingga pendidikan karakter tidak menjadi sia-sia dilaksanakan tidak hanya tertulis diatas kertas saja. Anak-anak kita adalah pewaris tahta negara yang menentukan kuat atau runtuhnya martabat bangsa di mata dunia apalagi dimata Allah Swt. @@@




Bengkulu, 5 Februari 2012.